PIK KRR SMAN 1 PAJANGAN's Blog

Just another WordPress.com weblog

Remaja Butuh Informasi Kespro

Posted by pikkrrsman1pajangan pada Februari 4, 2010

Remaja Butuh Informasi Kesehatan Reproduksi

SUATU ketika, Gita (bukan nama sebenarnya), remaja putri kelas 2 SMA, mengeluh sakit di daerah rahimnya. Diantar kedua orang tuanya, ia memeriksakan diri ke sebuah rumah sakit di Jakarta. Ketika memeriksa Gita, betapa terkejutnya sang dokter karena di dalam rahim Gita ditemukan sebuah alat pembuka botol. Alat itulah yang membuatnya kesakitan.Ketika ditanya, Gita mengatakan memasukkan alat pembuka botol tersebut saat ia melakukan masturbasi.

Pengalaman Susi (bukan nama sebenarnya) lain lagi. Akibat ketidaktahuannya soal kehamilan, pelajar SMA kelas I itu nekat menggugurkan kandungannya dengan cara memasukkan gabus ke dalam rahimnya. Hasilnya remaja tersebut mengalami infeksi rahim cukup parah.

Kejadian nyata tersebut terungkap pada suatu seminar nasional mengenai Kesehatan Reproduksi di Indonesia, yang berlangsung di Jakarta, beberapa waktu lalu. Kasus Susi dan Gita adalah contoh ketidaktahuan kaum remaja soal kesehatan reproduksi (kespro) dan dampak hubungan seks terhadap dirinya.

Menurut Siswanto A Wilopo, Deputi Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), saat ini telah terjadi pergeseran perilaku seksual di kalangan remaja. Tetapi karena ketidaktahuan mereka banyak pula tindakan yang mereka ambil membuat paramedis maupun orang tua terkejut.

Surya, staf Seksi Evaluasi Direktorat Kesehatan Reproduksi Remaja BKKBN juga mengatakan, dari data yang dihimpunnya banyak kaum remaja putri maupun putra mengalami infeksi di alat reproduksinya, bahkan menyebabkan kematian.

”Permasalahan utama kesehatan reproduksi remaja (KRR) di Indonesia, kurangnya informasi mengenai kesehatan reproduksi, masalah pergeseran perilaku seksual remaja, pelayanan kesehatan yang buruk serta perundang-undangan yang tidak mendukung,” ujar Surya, kepada Media.

Menurut data Kesehatan Reproduksi yang dihimpun Jaringan Epidemiologi Nasional (JEN, 2002), jelas Surya, informasi KRR secara benar dan bertanggung jawab masih sangat kurang. Pemberian informasi tentang KRR di beberapa tempat masih dipertentangkan, apalagi jika diberi judul pendidikan seksual. ”Masih terdapat anggapan, pendidikan seksual justru akan merangsang remaja melakukan hubungan seksual. Selain itu sebagian besar orang tua yang diharapkan dapat memberikan informasi mengenai hal ini, tidak memiliki kemampuan menerangkan serta tidak memiliki informasi memadai.”

Padahal, lanjutnya, survei yang dilakukan WHO (organisasi kesehatan dunia) di beberapa negara memperlihatkan, adanya informasi yang baik dan benar, dapat menurunkan permasalahan kesehatan reproduksi pada remaja.

Perubahan hormon

Masalah yang dialami remaja tersebut sebetulnya tidak semata akibat pergeseran budaya atau pengaruh pergaulan. Kemajuan dalam perbaikan gizi di Indonesia juga ternyata menjadi pemicu pergeseran perilaku seksual di kalangan remaja.

Kasubdit Kesehatan Reproduksi Remaja BKKBN A Djabbar Lukman yang ditemui Media di ruang kerjanya mengakui peningkatan gizi saat ini mengakibatkan hormon seorang anak menjadi lebih cepat matang. Akibatnya seorang remaja putri akan lebih cepat mengalami menstruasi dan kematangan organ-organ reproduksi. Ini juga yang menyebabkan hasrat seksual mulai timbul pada usia relatif muda.

”Selain hormon, pengaruh lingkungan juga menjadi salah satu penyebab timbulnya pergeseran perilaku remaja. Globalisasi menyebabkan aksesibilitas remaja terhadap pornografi menjadi lebih mudah. Ribuan situs porno di internet serta media-media lain, seperti tabloid porno, komik hentai (komik porno Jepang) yang bertebaran di sekeliling remaja menjadi salah satu stimulan pergeseran perilaku para remaja saat ini,” tutur Djabbar.

Untuk itu, lanjutnya, hingga saat ini pihaknya masih berusaha meng-counter serangan informasi bertubi-tubi. Salah satunya dengan menerbitkan buku mengenai kesehatan reproduksi remaja, menyampaikan berbagai informasi, salah satunya dengan meluncurkan alat ajar mengenai remaja dan berbagai permasalahannya termasuk kesehatan reproduksi dan narkoba.

Alat ajar berupa sarana multimedia tersebut rencananya akan segera disosialisasikan ke daerah-daerah dalam waktu dekat ini. Selain itu BKKBN bekerja sama dengan berbagai LSM, sekolah, pesantren, pramuka serta media elektronik melakukan program konseling dan penyampaian informasi mengenai kesehatan reproduksi.

”Saat ini terdapat 500 pusat konseling remaja yang tersebar di seluruh Indonesia.”

Djabbar juga mengungkapkan, pihaknya tengah mengupayakan agar siswi hamil di tengah masa pendidikan sebaiknya jangan dikeluarkan. Akan lebih baik jika siswi diberi waktu cuti melahirkan, kemudian dapat kembali melanjutkan sekolahnya jika sudah selesai cuti. Karena mereka pun berhak melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.

Berbicara masalah kesehatan reproduksi (kespro) di kalangan remaja jangan dianggap sebagai hal tabu. Keterbukaan antara guru, murid ataupun orang tua di dalam membahas kesehatan reproduksi sangatlah penting saat ini.

”Sekarang ini anak perempuan usia 9 tahun ada yang sudah menstruasi. Anak lelaki pun ada yang sudah mimpi basah. Orang tua harus siap menghadapi semua perubahan di dalam diri anak termasuk membicarakan kespro,” kata dr Erlina Sutjiadi SpKJ dari RS Siloam Graha Medika.

Menurutnya, keberadaan anak yang sudah menstruasi atau mimpi basah tidak perlu ditutup-tutupi. Orang tua, lanjutnya, harus menerimanya dengan wajar. Meskipun dulu orang tua mengalaminya saat usia 15 tahun. Dan sebaiknya orang tua membicarakan dari hati ke hati tentang apa yang telah dialami anaknya itu.

Erlina menganjurkan orang tua memberikan pendidikan seks kepada anak sejak kecil. ”Bahasa disesuaikan dengan usia anak. Orang tua harus menyampaikan hal-hal penting tentang apa itu fungsi alat reproduksi. Pada perempuan, ibu bisa mengajak anaknya melihat saat ibunya menstruasi. Kenapa ibu setiap bulan mengalami datang bulan dengan mengeluarkan darah. Kenapa ibunya hamil, kemudian melahirkan dan menyusui.”

Anak, kata Erlina, akan merekam apa yang diajarkan oleh ibunya dan melihat sendiri apa yang dialami ibunya. ”Ketika ia besar nanti dan mengalami menstruasi, anak itu tidak akan kaget tiba-tiba mengeluarkan darah setiap bulannya. Dan orang tua pun bisa memberikan penjelasan mengapa anak-anak perlu menjaga kebersihan alat reproduksinya.

Sementara itu, dr Hardi Susanto dari RS Siloam Graha Medika mengatakan, pendidikan seks di dalam keluarga tidak harus membicarakan hubungan seks secara vulgar. Tetapi dengan sebuah teladan yang disampaikan dengan bahasa sehari-hari mudah dimengerti anak.

”Misalnya, bagaimana orang tua mengajarkan anak cebok secara benar. itu sudah mengajarkan kespro. Kalau cebok harus dibasuh air bersih. Cara dari depan ke belakang bukan belakang ke depan. Apabila salah, pada alat genital (alat reproduksi/alat kelamin) perempuan terkena infeksi, karena kuman dari belakang (dubur) masuk ke dalam alat genital. Ini kadang tidak dipahami anak,” ujar Hardi.

Ginekolog ini mengatakan, ada pasiennya mengalami infeksi pada alat genitalnya karena kebiasaan cebok salah. Infeksi itu bisa karena jamur, bakteri, kuman atau patogen lainnya.

Apabila mengenakan celana pun, lanjutnya remaja diberi tahu harus kering. Karena celana basah akan mempermudah tumbuhnya jamur. Udara lembab. Bila alat reproduksi lembab dan basah, keasaman meningkat dan itu memudahkan pertumbuhan jamur. ”Maka seringlah ganti celana dalam,” saran Hardi.

Ia juga menganjurkan agar remaja tidak tergiur menggunakan panty liner (semacam pembalut yang tipis). Sebab tidak sesuai dengan iklim di Indonesia. ”Iklim di Indonesia itu panas, lembap, dan mudah berkeringat. Dengan menggunakan panty liner remaja berharap celananya tidak basah. Padahal itu akan menumbuhkan jamur. Banyak pasien saya yang mengalami demikian,” jelasnya.

Soal pendidikan seks, Hardi menyarankan agar anak-anak mendapatkan informasi yang benar. Dalam penyaluran hasrat seksualnya pun anak-anak lebih baik melakukan kesibukan dengan teman-teman sebaya, seperti olahraga, mengikuti klub science, kemping, bermain musik, dan sebagainya.

‘Kesibukan yang cukup banyak selain belajar membuat remaja selalu bersemangat untuk mengejar prestasi. Berbeda dengan anak-anak yang malas beraktivitas mudah tergoda untuk melihat VCD porno, merokok, akhirnya bisa berbuat hal-hal negatif.”

Bila remaja sudah punya pacar, bisa disalurkan dengan pacaran sehat seperti pacaran tidak harus berduaan di tempat sepi, melainkan bergabung dengan teman-temannya agar terhindar hal-hal negatif.

Sebab bila remaja telah hamil maka ia akan membunuh masa depannya dan kesehatan dirinya. ”Banyak remaja hamil ketika melahirkan anak, ia tidak siap mengasuh anaknya.” (CR-48/Nda/H-1)

sumber: Media Indonesia Online

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: