PIK KRR SMAN 1 PAJANGAN's Blog

Just another WordPress.com weblog

HIV/AIDS, Kapakah bisa ditanggulangi?

Posted by pikkrrsman1pajangan pada Februari 4, 2010

HIV, Kapankah bisa ditanggulangi?

AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi virus HIV (Human Immunodeficiency Virus). Penularan HIV dapat melalui hubungan sex dengan penderita AIDS, pemakaian jarum suntik bekas yang telah digunakan untuk pasien AIDS, dan lahir dari ibu atau meminum susu ibu penderita AIDS.

Virus HIV yang terinfeksi menyerang sistem imun di dalam tubuh manusia sehingga berakibat fatal. Sampai saat ini belum ditemukan obat maupun vaksin penangkalnya. Namun berbagai usaha tengah dilakukan dalam upaya penemuan obat/vaksin tersebut.

Sejarah AIDS

Penyakit AIDS, pertama kali ditemukan pada awal tahun 1980-an. Kebanyakan penderitanya adalah pria “gay”, sehingga pada waktu itu dinamakan “gay compromise syndrome” atau “gay-related immune deficiency”. Pada Juli 1982, jumlah kasus di Amerika Serikat dilaporkan berjumlah 452 orang.

Pada akhir 1982, dilaporkan seorang anak yang yang menerima transfusi darah menderita AIDS dan akhirnya meninggal dunia. Kejadian ini menimbulkan dugaan bahwa AIDS adalah penyakit yang disebabkan oleh agen penular (infectious agent). Setelah itu juga diketahui bahwa penyakit ini tidak hanya terjadi di Amerika, dan tidak hanya terjadi pada “gay” tapi juga pada laki-laik dan perempuan yang normal.

Pada bulam Mei 1983, grup peneliti dari Institute Pasteur, Prancis yang diketuai oleh Luc Montagnier berhasil mengisolasi virus yang diduga menjadi penyebab AIDS, dan virus ini kemudian diberi nama “lymphadenophaty-associated virus” (virus perusak limpa).

Setahun berikutnya, Robert C. Gallo dan kawan-kawan dari National Cancer Institute, Amerika berhasil mengisolasi virus penyebab AIDS yang dinamakan HTLV-III (Human T cell Lymphotropic Virus, type 3). Dengan diisolasinya virus ini, semua orang optimis kalau AIDS bisa segera diatasi dengan menggunakan vaksin. Bahkan pada saat itu, sekretaris Healt and Human Service, Amerika Serikat, Margaret Hecker mengatakan bahwa vaksin yang siap uji akan diperoleh dalam dua tahun mendatang. Namun kenyataannya tidah semudah itu dan terbukti sampai sekarang belum ada vaksin yang ampuh.

Karena virus LAV dan HTLV-III adalah sama, pada tahun 1986, komite internasional untuk taksonomi virus (the International Committee on the Taxonomy of Viruses) sepakat untuk tidak memakai nama LAV atau HTLV-III, dan memberi nama baru yaitu HIV.

Dua puluh tahun telah berlalu sejak ditemukannya HIV. Dalam rangka peringatan 20 tahun penelitian HIV, pada bulan Juli 2003 jurnal Nature Medicine menerbitkan edisi khusus yang menfokuskan pada HIV. Penerbitan ini bersamaan dengan International AIDS Society Conference on HIV Pathogenesis and Treatment yang diadakan di Paris pada Juli 2003 yang lalu.

Penelitian mengenai HIV dimulai sejak tahun 1983, dimana grup peneliti Prancis yang diketuai oleh Luc Montagnier menduga bahwa ada hubungan antara retrovirus dengan AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome). Setahun berikutnya, Robert C. Gallo dan kawan-kawan berhasil mengisolasi retrovirus dari pasien AIDS. Virus ini kemudian diberi nama HIV (Human Immunodeficiency Virus).

Sampai saat ini, lebih dari 20 juta jiwa telah meninggal karena AIDS. Dan sekarang diperkirakan penderita AIDS berjumlah lebih dari 42 juta. Jumlah ini terus bertambah dengan kecepatan 15,000 pasien per hari. Jumlah pasien di kawasan Asia Selatan dan Asia Tenggara sendiri diperkirakan berjumlah sekitar 5,6 juta.

Sejak penemuannya, ribuan peneliti di seluruh dunia telah ikut berperan dalam penelitian HIV. Lebih dari 125 ribu artikel tentang HIV telah dipublikasi, namun masalah AIDS masih belum terpecahkan.

Terapi kimia

Berbagai cara pengobatan telah diterapkan untuk penyembuhan penyakit AIDS. Yang banyak dipraktekan secara klinis sampai saat ini adalah pengobatan dengan obat kimia (chemotherapy). Obat-obat ini biasanya adalah inhibitor enzim yang diperlukan untuk replikasi virus itu sendiri, seperti inhibitor enzim reverse transcriptase atau protease.

Zidovudin, atau yang lebih dikenal dengann AZT, adalah obat AIDS yang pertama kali digunakan. Obat yang merupakan inhibitor enzim reverse transciptase ini mulai digunakan sejak tahun 1987. Setelah itu dikembangkan inhibitor protease seperti indinavir, ritonavir dan nelfinavir. Sampai saat ini Food and Drug Administration (FDA), Amerika telah mengizinkan penggunaan sekitar 20 jenis obat-obatan.

Pada umumnya, pemakaian obat-obat ini adalah dengan kombinasi satu sama lainnya. Hal ini disebabkan karena pemakaian obat tunggal, selain tidak efektif juga menyebabkan mudah munculnya virus yang resisten terhadap obat tersebut. Pemakaian obat kombinasi ini menjadi standar pengobatan AIDS saat ini, dan cara ini dinamakan highly active antiretroviral threapy (HAART). Dengan HAART ini biasanya 4 sampai 6 pil yang diminum 3 kali sehari.

Jumlah yang banyak dan frekuensi yang sering ini sangat memberatkan pasien baik dari segi fisik maupun ekonomi. Karena keberatan ini, terkadang pasien lupa meminumnya dan kelupaan ini akan menjadi fatal karena virus akan berkembangbiak lagi.

Terapi gen

Pendekatan lain yang dilakukan adalah terapi gen (gene therapy). Artinya, pengobatan dilakukan dengan mengintroduksikan gen anti-HIV ke dalam sel yang terinfeksi HIV. Gen ini bisa berupa antisense (DNA yang mempunyai barisan komplementari) dari salah satu enzim yang diperlukan untuk replikasi virus tersebut atau ribozyme yang berupa antisense RNA yang memiliki kemampuan untuk menguraikan RNA yang menjadi target.

Antisense yang diintroduksikan dengan vektor akan menjalani proses transkripsi menjadi RNA bersamaan dengan messenger RNA virus (mRNA). Setelah itu, RNA antisense ini akan berinteraksi dengan mRNA dari enzim tersebut dan mengganggu translasi mRNA sehingga tidak menjadi protein. Karena enzim yang diperlukan untuk replikasi tidak berhasil diproduksi, otomatis HIV tidak akan berkembangbiak di dalam sel. Sama halnya dengan antisense, ribozyme juga menghalangi produski suatu protein tapi dengan cara menguraikan mRNAnya.

Pendekatan yang dilakukan melalui RNA ini juga bagus dilihat dari segi imunologi, karena tidak mengakibatkan respon imun yang tidak diinginkan. Hal ini berbeda dengan pendekatan melalui protein yang menyebabkan timbulnya respon imun di dalam tubuh.

Untuk keperluan terapi gen ini, dibutuhkan sistem pengantar gen (gene delivery) yang efesien, yang akan membawa gen hanya kepada sel yang telah dan akan diinfeksi oleh HIV. Selain itu, sistem harus bisa mengekspresikan gen yang dibawa dan tidak mengakibatkan efek yang berasal dari virus itu sendiri. Untuk memenuhi syarat ini, HIV itu sendiri penjadi pilihan utama.

Pemikiran untuk memanfaatkan virus HIV sebagai vektor dalam proses gen transfer ini diwujudkan pertama kali pada tahun 1991 oleh Poznansky dan kawan-kawan dari Dana-Farber Cancer Institute, Amerika. Setelah itu penelitian tentang penggunaan HIV sebagai vektor untuk terapi gen berkembang pesat, sesuai dengan perkembangan penelitian HIV itu sendiri.

Wenzhe Ho dari The Children Hospital of Philadelphia bekerjasama dengan Julianna Lisziewicz dari National Cancer Institute berhasil menghambat replikasi HIV di dalam sel dengan menggunakan anti-tat, yaitu antisense tat protein (enzim yang esensial untuk replikasi HIV). Sementara itu, beberapa grup juga berhasil menghambat perkembangbiakan HIV dengan menggunakan ribozyme.

Hal lain yang penting dalam sistem ini adalah tingkat ekspresi gen yang stabil. Dari hasil percobaan dengan tikus, sampai saat ini telah berhasil dibuat vektor yang bisa mengekspresikan gen dengan stabil dalam jangka waktu yang lama pada organ seperti otak, retina, hati, dan otot. Walaupun belum sampai pada aplikasi secara klinis, aplikasi vektor HIV untuk terapi gen bisa diharapkan.

Hal ini lebih didukung lagi dengan penemuan small interfering RNA (siRNA) yang berfungsi menghambat expressi gen secara spesifik. Prinsipnya sama dengan antisense dan ribozyme, tapi siRNA lebih spesifik dan hanya diperlukan sekitar 20 bp (base pair/pasangan basa), sehingga lebih mudah digunakan. Baru-baru ini David Baltimore dari University of California, Los Angeles (UCLA) berhasil menekan infeksi HIV terhadap sel T (human T cell) dengan menggunakan siRNA terhadap protein CCR5 yang merupakan co-reseptor HIV. Dalam penelitian ini, HIV digunakan sebagai sistem pengantar gen.

Vaksin

Selain itu juga dilakukan usaha untuk pengembangan vaksin untuk pencegahan terhadap infeksi HIV. Diantaranya yang cukup memberi harapan adalah kandidat vaksin dari rekombinant protein gp120, protein selaput (envelope protein) virus HIV. Dari hasil percobaan menggunakan simpanse, didapatkan bahwa vaksin ini mencegah simpanse dari infeksi HIV. Kandidat vaksin ini dikembangkan oleh VaxGen Inc., perusahaan yang bergerak di bidang produk biologi untuk penyakit menular yang berpusat di Australia.

Setelah terbukti keampuhannya pada simpanse, kandidat vaksin yang bernama AIDSVAX ini kemudian memasuki pengujian klinis melalui beberapa fase pada manusia. Pengujian klinis lolos untuk pada fase 1, dimana yang diuji adalah tingkat keamanan dan dosisnya. Begitu juga untuk fase 2, yaitu pengujian dalam skala besar terhadap tingkat stimulasi antibodinya. Namun sayang sekali, AIDSVAX ini tidak bisa lolos dalam fase 3. Dalam fase ini dilakukan pengujian skala besar terhadap ketahanan manusia yang telah divaksinasi terhadap serangan virus HIV.

Walaupun demikian, usaha pengembangan vaksin masih tetap dilaksanakan. Tentunya kita berharap obat dan vaksin HIV bisa ditemukan segera.

Penutup

Masalah AIDS adalah masalah yang masih panjang dan membutuhkan waktu yang lama untuk pemecahannya. Ini sangat berat terutama bagi penderita AIDS itu sendiri. Bagi yang belum terinfeksi tentunya selalu berusaha supaya tidak terinfeksi dengan menghindari perbuatan yang memberi peluang terinfeksi HIV.

Dr. Andi Utama
Peneliti Puslit Bioteknologi-LIPI
Divisi Publikasi ISTECS-Japan
Sumber : Berita Iptek

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: